True
story, kupersembahkan kepada anggota kelas
Keributan
yang tak dapat di elakkan oleh guru manapun jikan sedang berlangsungnya belajar
mengajar dalam ruangan yang pengap diiringi aroma tak sedap. Sedikit demi
sedikit menguap dari berbagai pelosok ketek para penghuni dalam ruangan itu,
baguslah jika every one memakai
dodoran, hal ini dapat meminimalisir tingkat ekstrimnya aroma yang menusuk
hidung, bagi penghuni dalam ruangan itu.
Keanehan
terjadi pada hidung kami masing-masing, meski sudah demikian pengapnya bagian
dalam kelas, tapi kami sanggub nertahan untuk belajar di sana, dan hal ini
bukan semena-mena terjadi begitu saja layaknya seorang cowok mencintai soerang
wanita dan ia rela mengorbankan seluruh jiwa dan raganya kepada si cewek itu,
meskipun harus tinggal di sebuah ruangan yang amat sesak dengan aroma menusuk
indra penciuman, dan cowok itu berkata “cinta butuh pengorbanan”
Tapi
karena memang hukum alam telah berbiacara, logika membuktikan jika pada suatu
tempat penghuninya sumua terdiri dari harimau, maka tidak akan ada yang perlu
di takutkan jika berada di sana, layaknya kambing takut terhadap harimau untuk
dimangsa sang raja hutan. Dan takdir telah ditulis, hal yang sama juga telah terjadi pada rungan kelas kami,
tapi berbeda situasi dan tokohnya. Karena memang pada dasarnya sumber dari
aroma itu berasal dari masing-masing penghuni, maka setiap anggota kelas
kebagian aroma yang sama dan tak dapat dielak dari proses pernafasan, pada situasi
demikian indra penciuman kami di paksakan untuk beradaptasi dengan keadaan, hukum
biologi terjadi.
***
Ketika
itu dalam suasana jenuhnya kami untuk mengikuti aktivitas belajar mengajar pada
siang hari, tanpa ada kompromi, tanpa aba-aba, apalagi pesiapan yah itu mah
tidak perlu ditanya lagi karena jawabannya sudah pasti tidak ada. Tiba-tiba pak
guru menyuruh kami semua supaya membuat karangan dalam bahasa inggris, kami
semua bukan lagi terkejut tapi nyaris shok dengan perintah tugas yang kami
terima melalui indra pendengaran kami, bahkan belum habis kalimat-kalimat yang
ingin dikeluarkan oleh pak guru, kami sudah mengeluh dan menantang suruhan
beliau dengan saran-saran sesat yang kami tawarkan.
“Tenang
dulu saya belum habis bicara” kata beliau dengan nada yang ramah pada kami,
tanpa terlihat pancaran rona wajah yang memendam emosi dan ingin di salurkan
kepada kami. Setelah kami semuanya diam beliau melanjutkan “dengarkan dulu apa
yang saya inginkan dari kalian, hari ini kita akan membuat karangan dalam
bahasa inggris, tapi ini dikerjakan berkelompok dan cerita ini diceritakan
dalam bentuk fiksi” ya karena kami siswa cowoknya sedikit, jadi kelompok kami
terdiri dari satu kelompok, sedangkan siswa ceweknya lumanyan banyak, maka mereka
dipecahkan menjadi dua kelompok, untuk mengarang sebuah cerita singkat dalam
bentuk fiksi.
Karena
takut durhaka pada guru, maka kami mengiyakan saja perintah beliau, kan kata
orang, guru adalah orang tua kedua. Jadi perlu waspada juga sih dari durhaka kepadanya
meski orang tua ke dua.
Dan
kami semua asyik berdiskusi tentang cerita apa yang akan kami tulis untuk
menyelesaikan tugas yang sedang kami bebani, beberapa di antara kami masih
dalam prosses berpikir, kemudian ada salah seorang dari temanku ia mengungkapkan
ide cerita maling kundang, sebuah cerita yang sangat terkenal, dan dipublikasikan di
berbagai media massa maupun media cetak. Tapi sayang semua dari kami menolak
idenya karena sudah pasaran, sudah dari tadi waktu kami terbuang dengan ide-ide
tak jelas sedangkan pak guru sudah menyuruh untuk di bacakan, satu kelompok
diwakilkan pada satu orang, dan ketika itu kelompok kami belum ada coretan sama
sekali karena dari tadi yang memberi ide, semuanya tak bermutu.
Akhirnya
kami memutuskan kesepakatan yang ekstrim yaitu
cerita akan dimulai dari anggota pertama kelompok untuk bercerita, dan ia
terserah mau menceritakan apa tanpa atura, tanpa sensor, tanpa segalanya. Aturan
ini diciptakan dengan motto “APA YANG KAU PIKIR, ITU YANG KAU CERITAKAN” sebuah
tindakan yang fanomenal dan menantang.
Maka
orang pertama memulainya dengan kata “Pada suatu hari datanglah seorang pemuda
gagah perkasa, ia datang dari negeri seberang lautan. Continue…” perintahnya, dan di sampingnya kebetulan siswa yang
sangat senang dalam mendeskripsikan sesuatu, ia melanjutkan “Badannya six pack
memberikan pesona bagi wanita yang melihatnya. Tapi sayang ia seorang play boy ia menyukai semua wanita cantik
yang dilihatnya Continue…”
perintahnya, langsung seketika cewek-cewek tertawa mendengar deskripsinya,
apalagi cowok, tawa mereka dua kali lipat tingkatan volume dari cewek, ketika
semuannya udah senyap maka temanku lainnya kembali melanjutkan cerita yang
terputus tadi “Dan pada hari itu ia sedang memencing dan menangkap ikan yang
besar, serta membawanya pulang untuk dimasak, tetapi tidak muat karena terlalu
besar. Continue…” perintahnya, teman
di sampingnya pun melanjutkan cerita dengan santai “Tidak lama kemudian ikannya
berbicara, dan pemuda itu terkejut bukan main melihat suaranya yang anggun. Continue…” perintahnya, nah tibalah pada
siswa yang sangat iseng, ia suka mencantumkan nama orang lain dalam ceritanya,
ia melanjutkan ceritanya “Hari demi hari pemuda itu pun mulai kerasan dengan
ikan mira, dan mirapun merasa nyaman dengan pemuda itu, tapi sayangnya si
pemuda harus membeli banyak kurma karena si mira suka makan kurma. Continue…” sontak kami semua tertawa
dengan cerita yang di paparkan olehnya, karena kami tau maksudnya untuk siapa
dan mana orangnya, sedangkan pak guru tak tau maksud akan dia.
Karena
temanku yang terakhir ini susah bercerita alias bodoh bercerita yang di
samarkan, maka kawan ku Tono yang tadinya suka isengin orang lain dalam
ceritanya, membantunya dengan cara menulis di selembaran kertas lalu di
serahkan padanya supaya di bacakan, barulah ia tenang dan memulai ceritanya
“dan pemuda itu sering membelinya di waktu subuh, maka demikianlan asal usul
kurma subuh teman-teman The end.
Sontak kami semua tertawa dengan cerita yang sangat spektakuler dan fanomenal
ini.
“Semuanya
tenang, sudah-sudah, jangan lagi ribut, sekaran saya akan bacakan absen”
perintah pak guru pada kami. Maka pak
guru memanggil nama-nama kami satu persatu, dan pada akhirnya tibalah pada nama
teman yang dimaksudkan dalam cerita Tono tadi, saat pak guru memanggil “Hamira
khairuna” kami semua heboh pada posisi kami masing-masing, ada yang tertawa
sambil pegang perut, ada yang menyembunyikan wajahnya di balik telapak
tangannya, bahkan ada juga yang mengeluarkan air mata sangking dahsyatnya
kekuatan tawa.
Pak
guru membuat kami bungkam dengan pernyataan beliau “Oh jadi itu maksud kalian,
baru nyambung saya yayaya…” kami kembali tertawa geli mendengar pernyataan pak
guru.
“sudah-sudah
semuanya diam, mira apa kamu sakit hati sama mereka, jika kamu sakit hati, saya
akan beri mereka hukuman” waduh kami semuanya terdiam dan tidak melanjutkan
tawa, dan memasang ekspresi tak bersalah.
“bagaimana
mira?” Tanya pak guru kedua kalinya, kami semua penasaran apa respon dari mira,
akan kah ia balas dendam pada kami semua, “no
problem sir, I'm forgive them lready” sebuah jawaban yang tak pernah sama
sekali terlintas dalam benak kami, akhirnya pak guru memutuskan, kami semua harus
minta maaf kepada Mira. Senang sekali kami tak jadi kena hukuman, dengan
menyatukan suara kami berteriak “MAAF YA MIRA” mereka dari kaum hawa tersenyum
geli melihat tingkah kami.
Dan
pak guru kembali melanjutkan pembacaan absen yang sempat tertunda, memang kami
semua sering isengin satu sama lain ketika rasa bosan menyerang pada saat
proses belajar mengajar berlangsung, dan yang menjadi sasaran’ ya… seperti mira
tadi, karena ia memiliki tubuh yang agak sedikit sehat, alias gendut yang di
samarkan, dari teman lainnya, kebetulan BBM nya pun bernama “KURMA SUBUH”
karena dua hal itulah yang membuat kami terinspirasi untuk mengarang cerita
tadi, dan dari perbedaan itulah kami sering mencari hiburan dengan berbagai
macam cara.