Aceh
dikenal dengan serambi mekkah, ini semua bermula semenjak masuknya islam melalui
Aceh, lebih tepatnya pada samudra pasai di aceh utara, bahkan tidak hanya
julukannya yang begitu istimewa bahkan
turun kepada perbuatan masyarakat bermukim setempat.
Jika
ditelusuri julukan dari serambi mekkah, keua kata itu menganung makna yang
spesial. Serambi dari kamus besar bahasa Indonesia dijeaskan bahwa “serambi”
merupakan jalan masuk atau tempat yang mesti dilewati untuk menuju pencapaian,
ibarat sebuah rumah jika yang dikatakan serambi ialah pintunya, jalan paling
aman dan sesuai untuk masuk kedalam rumah, sedangkan jalan lain juga dapat
ditempuh untuk masuk kedalam, seperti jendela, akan tetapi jalan pencapaian dari
jendela tidak aman dan sulit ditempuh untuk masuk ke dalam rumah.
Sedangkan
kata pasangannya ialah “mekkah” jika ditelusuri dari buku sejarah kebudayaan
islam mengandung maksud secara tersirat dengan banyaknya kebaikan di sana,
karena letaknya di timur tengah dan di sana juga bermula kehidupan pertama kali
dimulai, saat dipertemukannya Adam dan Hawa, tetapi yang terpenting di sanalah
nabi terakhir di lahirkan dan menyebarkan petunjuk-petunjuk kehidupan bagi
manusia, dan ini semua dapat ditrawang dengan membaca sejarah islam, mekkah
merupakan daerah yang lengkap dengan aturan-aturan islam berasal, maka jika
digabungkan antara kedua kata tersebut, kita dapat menarik kesimpulan,
bahwasanya Aceh merupakan gerbang utama dari asia dan pintu utama dari Negara
Indonesia, melalui daerah Aceh masuknya ajaran yang dibawa oleh nabi Muhammad
SAW, manusia pilihan Allah yag menjadi suri tauadan yang baik, bagi segenap umat
manusia.
Otomatis
dengan sendirinya budaya-budaya orang mekkah yang berada di sana, dengan
sendirinya beradaptasi di Aceh dan lama kelamaan mendarah daging di Aceh serta
menjadi budaya di daerah serambi mekkah ini, dikarenakan di mekkah memiliki
budaya sehari-hari identik dengan islam, maka hal yang sama juga terjadi di
Aceh, layaknya pribahasa yang mengatakan “buah kelapa tidah jauh jatuh dari
pohonnya” hal yang sama juga terjadi antara Aceh dan Mekkah.
Budaya
Mekkah yang diadopsi dari agama, salah satunya seperti member salam, dengan
megucapkan assalamualaikum jika
berjumpa dengan saudara-saudara seiman dan seagama, dan kalimat salam itu
mengandung sari makna saling mendo’akan sesama muslim.
Mekkah
sangat kental dengan budaya memberi salam, maka tidak heran jika Aceh juga
terkontaminasi dengan budaya salam, seperti halnya penyakit HIV yang mudah
menular kepada siapa saja melalui perantara tertantu, dan budaya salam atau
saling menyapa dengan mengucapkan assalamualaikum
telah mejadi kebiasaan masyarakat Aceh, jika tidak melakukannya maka akan
dianggap aneh atau berbeda dalam masyarakat.
Teknologi
telah berkembang, zaman samakin berkembang, telah banyak terciptanya teknologi
canggih, seperti handphone, leptob, computer, dan lain sebagainya, karena
semakin majunya teknologi, maka budaya salam diaplikasi oleh masyarakat untuk
memulai percakapan jarak jauh seperti menggunakan handphone, chating melalui
online, dan itu semua tidak ada bedanya, yang membedakan hanya tidak melalui
pertemuan langsung, terpisah oleh jarak.
Pada
sisi lainnya karena majunya teknologi, memudahkan bagi setiap individu uentuk
mengetahui berbagai macam informasi dari seluruh dunia, dan dikarenakan yang
medominasi pemguasaan perflman dunia, music papan atas, mereka semua berasal
dari eropa. Maka dengan mudahnya mereka memproklamasikan budaya-budaya mereka
melalui media massa maupun media cetak, dan budaya mereka yang mempengaruhi
pemuda-pemuda zaman sekarang agar berkiblat kepada budaya mereka, dan
meninggalkan budaya tanah air sendiri, bangsa eropa yang merencanakan semua
ini, dengan memasukkan budaya mereka yang
terkesan modern supaya budaya aceh terkesan kuno dan primitif.
Sedikit
demi sedikit budaya-budaya barat terus mewabah ke segala penjuru Aceh, hal ini
dapat berefek punahnya budaya salam tersebut, dan ditakutkan akan terputus oleh
generasi selanjutnya, kini yang masih mengaplikasikan budaya salam, hanya
didominasi dari mereka yang berusia dewasa ini, tetapi bagi anak muda zaman
sekarang lebih mengikuti trend masa kini, yang berasal dari bagian barat sana,
dan ini jika tidak diatasi dikhawatirkan budaya salam tersebut akan punah
dimakan zaman, jika tiada lagi generasi yang mau mengaplikasikan budaya salam
itu, maka setelah punahnya generasi dewasa ini, budaya salam itu juga ikut
terkubur bersama terkuburnya generasi dewasa ini.
Saya
pernah mengalami pegalaman, yang membuat kita miris pada generasi muda sekarang,
kejadiannya membuat seorang tamu harus diajari bagaimana tabi’at islam atau
budaya islam yang baik dan benar saat berkunjung kemanapun yang ingin
dikunjungi, saat itu pasantren kami kedatangan seorang tamu yang inggin
berjumpa dengan saudaranya di pasantren itu, ia melapor kepada pos keamanan
pasantren setempat dan langsung mengutarakan maksud kedatangannya tanpa kalimat
pembuka(salam), tanpa basa basi, setelah ia berhenti berbicara kemudian bapak
yang menjaga pos keamanan itu menasihatinya dengan santun “besok jika ingin
mengunjungi seseorang ke sini, berilah salam untuk memulai pembicaraan, hargai
kami, meskipun kami ini tidak lebih hebat dari anda” demikianlah tingkah laku
yang terus berkembang pada generasi muda zaman sakarang khususnya di ingkungan
Aceh sekarang ini.
Itu
semua membuktikan telah memudarnya budaya salam di Aceh, dan jika tidak ada
yang bergerak untuk mempertahankannya, maka tidak lama lagi umur budaya salam
tersebut akan dikenang hanya dalam buku sejarah Aceh tempo doelo, tidak dapat
di rasakan lagi secara langsung.
Dari segi itulah kita
harus menumbuhkan rasa cinta akan budaya sendiri, karena dengan rasa cinta itu
kita dapat menjaganya, dan itu semua dimulai dari diri kita sendiri untuk
melestarikannya, jika bukan kita yang memulai maka siapa lagi yang akan memulai,
bagi mereka yang masih kanak-kanak belum paham akan budaya salam kita bimbing
atau dikasih tau akan indahnya budaya salam itu, agar mereka mau
mengaplikasikannya dalam lingkungan masyarakat umum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar