Sabtu, 15 November 2014

PUDARNYA BUDAYA SALAM DI ACEH

Aceh dikenal dengan serambi mekkah, ini semua bermula semenjak masuknya islam melalui Aceh, lebih tepatnya pada samudra pasai di aceh utara, bahkan tidak hanya julukannya  yang begitu istimewa bahkan turun kepada perbuatan masyarakat bermukim setempat.

Jika ditelusuri julukan dari serambi mekkah, keua kata itu menganung makna yang spesial. Serambi dari kamus besar bahasa Indonesia dijeaskan bahwa “serambi” merupakan jalan masuk atau tempat yang mesti dilewati untuk menuju pencapaian, ibarat sebuah rumah jika yang dikatakan serambi ialah pintunya, jalan paling aman dan sesuai untuk masuk kedalam rumah, sedangkan jalan lain juga dapat ditempuh untuk masuk kedalam, seperti jendela, akan tetapi jalan pencapaian dari jendela tidak aman dan sulit ditempuh untuk masuk ke dalam rumah.

Sedangkan kata pasangannya ialah “mekkah” jika ditelusuri dari buku sejarah kebudayaan islam mengandung maksud secara tersirat dengan banyaknya kebaikan di sana, karena letaknya di timur tengah dan di sana juga bermula kehidupan pertama kali dimulai, saat dipertemukannya Adam dan Hawa, tetapi yang terpenting di sanalah nabi terakhir di lahirkan dan menyebarkan petunjuk-petunjuk kehidupan bagi manusia, dan ini semua dapat ditrawang dengan membaca sejarah islam, mekkah merupakan daerah yang lengkap dengan aturan-aturan islam berasal, maka jika digabungkan antara kedua kata tersebut, kita dapat menarik kesimpulan, bahwasanya Aceh merupakan gerbang utama dari asia dan pintu utama dari Negara Indonesia, melalui daerah Aceh masuknya ajaran yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW, manusia pilihan Allah yag menjadi suri tauadan yang baik, bagi segenap umat manusia.

Otomatis dengan sendirinya budaya-budaya orang mekkah yang berada di sana, dengan sendirinya beradaptasi di Aceh dan lama kelamaan mendarah daging di Aceh serta menjadi budaya di daerah serambi mekkah ini, dikarenakan di mekkah memiliki budaya sehari-hari identik dengan islam, maka hal yang sama juga terjadi di Aceh, layaknya pribahasa yang mengatakan “buah kelapa tidah jauh jatuh dari pohonnya” hal yang sama juga terjadi antara Aceh dan Mekkah.

Budaya Mekkah yang diadopsi dari agama, salah satunya seperti member salam, dengan megucapkan assalamualaikum jika berjumpa dengan saudara-saudara seiman dan seagama, dan kalimat salam itu mengandung sari makna saling mendo’akan sesama muslim.

Mekkah sangat kental dengan budaya memberi salam, maka tidak heran jika Aceh juga terkontaminasi dengan budaya salam, seperti halnya penyakit HIV yang mudah menular kepada siapa saja melalui perantara tertantu, dan budaya salam atau saling menyapa dengan mengucapkan assalamualaikum telah mejadi kebiasaan masyarakat Aceh, jika tidak melakukannya maka akan dianggap aneh atau berbeda dalam masyarakat.

Teknologi telah berkembang, zaman samakin berkembang, telah banyak terciptanya teknologi canggih, seperti handphone, leptob, computer, dan lain sebagainya, karena semakin majunya teknologi, maka budaya salam diaplikasi oleh masyarakat untuk memulai percakapan jarak jauh seperti menggunakan handphone, chating melalui online, dan itu semua tidak ada bedanya, yang membedakan hanya tidak melalui pertemuan langsung, terpisah oleh jarak.

Pada sisi lainnya karena majunya teknologi, memudahkan bagi setiap individu uentuk mengetahui berbagai macam informasi dari seluruh dunia, dan dikarenakan yang medominasi pemguasaan perflman dunia, music papan atas, mereka semua berasal dari eropa. Maka dengan mudahnya mereka memproklamasikan budaya-budaya mereka melalui media massa maupun media cetak, dan budaya mereka yang mempengaruhi pemuda-pemuda zaman sekarang agar berkiblat kepada budaya mereka, dan meninggalkan budaya tanah air sendiri, bangsa eropa yang merencanakan semua ini, dengan memasukkan budaya mereka yang  terkesan modern supaya budaya aceh terkesan kuno dan primitif.

Sedikit demi sedikit budaya-budaya barat terus mewabah ke segala penjuru Aceh, hal ini dapat berefek punahnya budaya salam tersebut, dan ditakutkan akan terputus oleh generasi selanjutnya, kini yang masih mengaplikasikan budaya salam, hanya didominasi dari mereka yang berusia dewasa ini, tetapi bagi anak muda zaman sekarang lebih mengikuti trend masa kini, yang berasal dari bagian barat sana, dan ini jika tidak diatasi dikhawatirkan budaya salam tersebut akan punah dimakan zaman, jika tiada lagi generasi yang mau mengaplikasikan budaya salam itu, maka setelah punahnya generasi dewasa ini, budaya salam itu juga ikut terkubur bersama terkuburnya generasi dewasa ini.

Saya pernah mengalami pegalaman, yang membuat kita miris pada generasi muda sekarang, kejadiannya membuat seorang tamu harus diajari bagaimana tabi’at islam atau budaya islam yang baik dan benar saat berkunjung kemanapun yang ingin dikunjungi, saat itu pasantren kami kedatangan seorang tamu yang inggin berjumpa dengan saudaranya di pasantren itu, ia melapor kepada pos keamanan pasantren setempat dan langsung mengutarakan maksud kedatangannya tanpa kalimat pembuka(salam), tanpa basa basi, setelah ia berhenti berbicara kemudian bapak yang menjaga pos keamanan itu menasihatinya dengan santun “besok jika ingin mengunjungi seseorang ke sini, berilah salam untuk memulai pembicaraan, hargai kami, meskipun kami ini tidak lebih hebat dari anda” demikianlah tingkah laku yang terus berkembang pada generasi muda zaman sakarang khususnya di ingkungan Aceh sekarang ini.

Itu semua membuktikan telah memudarnya budaya salam di Aceh, dan jika tidak ada yang bergerak untuk mempertahankannya, maka tidak lama lagi umur budaya salam tersebut akan dikenang hanya dalam buku sejarah Aceh tempo doelo, tidak dapat di rasakan lagi secara langsung.

Dari segi itulah kita harus menumbuhkan rasa cinta akan budaya sendiri, karena dengan rasa cinta itu kita dapat menjaganya, dan itu semua dimulai dari diri kita sendiri untuk melestarikannya, jika bukan kita yang memulai maka siapa lagi yang akan memulai, bagi mereka yang masih kanak-kanak belum paham akan budaya salam kita bimbing atau dikasih tau akan indahnya budaya salam itu, agar mereka mau mengaplikasikannya dalam lingkungan masyarakat umum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar