Sabtu, 15 November 2014

MINORITAS, PERBEDAAN RESPON

True story, kupersembahkan kepada anggota kelas
Keributan yang tak dapat di elakkan oleh guru manapun jikan sedang berlangsungnya belajar mengajar dalam ruangan yang pengap diiringi aroma tak sedap. Sedikit demi sedikit menguap dari berbagai pelosok ketek para penghuni dalam ruangan itu, baguslah jika every one memakai dodoran, hal ini dapat meminimalisir tingkat ekstrimnya aroma yang menusuk hidung, bagi penghuni dalam ruangan itu.

Keanehan terjadi pada hidung kami masing-masing, meski sudah demikian pengapnya bagian dalam kelas, tapi kami sanggub nertahan untuk belajar di sana, dan hal ini bukan semena-mena terjadi begitu saja layaknya seorang cowok mencintai soerang wanita dan ia rela mengorbankan seluruh jiwa dan raganya kepada si cewek itu, meskipun harus tinggal di sebuah ruangan yang amat sesak dengan aroma menusuk indra penciuman, dan cowok itu berkata “cinta butuh pengorbanan”

Tapi karena memang hukum alam telah berbiacara, logika membuktikan jika pada suatu tempat penghuninya sumua terdiri dari harimau, maka tidak akan ada yang perlu di takutkan jika berada di sana, layaknya kambing takut terhadap harimau untuk dimangsa sang raja hutan. Dan takdir telah ditulis, hal yang sama  juga telah terjadi pada rungan kelas kami, tapi berbeda situasi dan tokohnya. Karena memang pada dasarnya sumber dari aroma itu berasal dari masing-masing penghuni, maka setiap anggota kelas kebagian aroma yang sama dan tak dapat dielak dari proses pernafasan, pada situasi demikian indra penciuman kami di paksakan untuk beradaptasi dengan keadaan, hukum biologi terjadi.

***
Ketika itu dalam suasana jenuhnya kami untuk mengikuti aktivitas belajar mengajar pada siang hari, tanpa ada kompromi, tanpa aba-aba, apalagi pesiapan yah itu mah tidak perlu ditanya lagi karena jawabannya sudah pasti tidak ada. Tiba-tiba pak guru menyuruh kami semua supaya membuat karangan dalam bahasa inggris, kami semua bukan lagi terkejut tapi nyaris shok dengan perintah tugas yang kami terima melalui indra pendengaran kami, bahkan belum habis kalimat-kalimat yang ingin dikeluarkan oleh pak guru, kami sudah mengeluh dan menantang suruhan beliau dengan saran-saran sesat yang kami tawarkan.

“Tenang dulu saya belum habis bicara” kata beliau dengan nada yang ramah pada kami, tanpa terlihat pancaran rona wajah yang memendam emosi dan ingin di salurkan kepada kami. Setelah kami semuanya diam beliau melanjutkan “dengarkan dulu apa yang saya inginkan dari kalian, hari ini kita akan membuat karangan dalam bahasa inggris, tapi ini dikerjakan berkelompok dan cerita ini diceritakan dalam bentuk fiksi” ya karena kami siswa cowoknya sedikit, jadi kelompok kami terdiri dari satu kelompok, sedangkan siswa ceweknya lumanyan banyak, maka mereka dipecahkan menjadi dua kelompok, untuk mengarang sebuah cerita singkat dalam bentuk fiksi.

Karena takut durhaka pada guru, maka kami mengiyakan saja perintah beliau, kan kata orang, guru adalah orang tua kedua. Jadi perlu waspada juga sih dari durhaka kepadanya meski orang tua ke dua.

Dan kami semua asyik berdiskusi tentang cerita apa yang akan kami tulis untuk menyelesaikan tugas yang sedang kami bebani, beberapa di antara kami masih dalam prosses berpikir, kemudian ada salah seorang dari temanku ia mengungkapkan ide cerita maling kundang, sebuah cerita yang sangat terkenal, dan dipublikasikan di berbagai media massa maupun media cetak. Tapi sayang semua dari kami menolak idenya karena sudah pasaran, sudah dari tadi waktu kami terbuang dengan ide-ide tak jelas sedangkan pak guru sudah menyuruh untuk di bacakan, satu kelompok diwakilkan pada satu orang, dan ketika itu kelompok kami belum ada coretan sama sekali karena dari tadi yang memberi ide, semuanya tak bermutu.

Akhirnya kami memutuskan kesepakatan yang ekstrim yaitu cerita akan dimulai dari anggota pertama kelompok untuk bercerita, dan ia terserah mau menceritakan apa tanpa atura, tanpa sensor, tanpa segalanya. Aturan ini diciptakan dengan motto “APA YANG KAU PIKIR, ITU YANG KAU CERITAKAN” sebuah tindakan yang fanomenal dan menantang.

Maka orang pertama memulainya dengan kata “Pada suatu hari datanglah seorang pemuda gagah perkasa, ia datang dari negeri seberang lautan. Continue…” perintahnya, dan di sampingnya kebetulan siswa yang sangat senang dalam mendeskripsikan sesuatu, ia melanjutkan “Badannya six pack memberikan pesona bagi wanita yang melihatnya. Tapi sayang ia seorang play boy ia menyukai semua wanita cantik yang dilihatnya Continue…” perintahnya, langsung seketika cewek-cewek tertawa mendengar deskripsinya, apalagi cowok, tawa mereka dua kali lipat tingkatan volume dari cewek, ketika semuannya udah senyap maka temanku lainnya kembali melanjutkan cerita yang terputus tadi “Dan pada hari itu ia sedang memencing dan menangkap ikan yang besar, serta membawanya pulang untuk dimasak, tetapi tidak muat karena terlalu besar. Continue…” perintahnya, teman di sampingnya pun melanjutkan cerita dengan santai “Tidak lama kemudian ikannya berbicara, dan pemuda itu terkejut bukan main melihat suaranya yang anggun. Continue…” perintahnya, nah tibalah pada siswa yang sangat iseng, ia suka mencantumkan nama orang lain dalam ceritanya, ia melanjutkan ceritanya “Hari demi hari pemuda itu pun mulai kerasan dengan ikan mira, dan mirapun merasa nyaman dengan pemuda itu, tapi sayangnya si pemuda harus membeli banyak kurma karena si mira suka makan kurma. Continue…” sontak kami semua tertawa dengan cerita yang di paparkan olehnya, karena kami tau maksudnya untuk siapa dan mana orangnya, sedangkan pak guru tak tau maksud akan dia.

Karena temanku yang terakhir ini susah bercerita alias bodoh bercerita yang di samarkan, maka kawan ku Tono yang tadinya suka isengin orang lain dalam ceritanya, membantunya dengan cara menulis di selembaran kertas lalu di serahkan padanya supaya di bacakan, barulah ia tenang dan memulai ceritanya “dan pemuda itu sering membelinya di waktu subuh, maka demikianlan asal usul kurma subuh teman-teman The end. Sontak kami semua tertawa dengan cerita yang sangat spektakuler dan fanomenal ini.

“Semuanya tenang, sudah-sudah, jangan lagi ribut, sekaran saya akan bacakan absen” perintah pak guru  pada kami. Maka pak guru memanggil nama-nama kami satu persatu, dan pada akhirnya tibalah pada nama teman yang dimaksudkan dalam cerita Tono tadi, saat pak guru memanggil “Hamira khairuna” kami semua heboh pada posisi kami masing-masing, ada yang tertawa sambil pegang perut, ada yang menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangannya, bahkan ada juga yang mengeluarkan air mata sangking dahsyatnya kekuatan tawa.

Pak guru membuat kami bungkam dengan pernyataan beliau “Oh jadi itu maksud kalian, baru nyambung saya yayaya…” kami kembali tertawa geli mendengar pernyataan pak guru.

“sudah-sudah semuanya diam, mira apa kamu sakit hati sama mereka, jika kamu sakit hati, saya akan beri mereka hukuman” waduh kami semuanya terdiam dan tidak melanjutkan tawa, dan memasang ekspresi tak bersalah.

“bagaimana mira?” Tanya pak guru kedua kalinya, kami semua penasaran apa respon dari mira, akan kah ia balas dendam pada kami semua, “no problem sir, I'm forgive them lready” sebuah jawaban yang tak pernah sama sekali terlintas dalam benak kami, akhirnya pak guru memutuskan, kami semua harus minta maaf kepada Mira. Senang sekali kami tak jadi kena hukuman, dengan menyatukan suara kami berteriak “MAAF YA MIRA” mereka dari kaum hawa tersenyum geli melihat tingkah kami.

Dan pak guru kembali melanjutkan pembacaan absen yang sempat tertunda, memang kami semua sering isengin satu sama lain ketika rasa bosan menyerang pada saat proses belajar mengajar berlangsung, dan yang menjadi sasaran’ ya… seperti mira tadi, karena ia memiliki tubuh yang agak sedikit sehat, alias gendut yang di samarkan, dari teman lainnya, kebetulan BBM nya pun bernama “KURMA SUBUH” karena dua hal itulah yang membuat kami terinspirasi untuk mengarang cerita tadi, dan dari perbedaan itulah kami sering mencari hiburan dengan berbagai macam cara.

            Tak ada seorang pun yang paham di antara kami mengapa ia berbeda dari yang lain, tidak jarang orang yang di ejek atau di buli akan cepat naik pitam, tapi teman di kelas kami ini tak pernah marah kepada kami, dan pastinya setiap ejekan yang kami tembak kepadanya tidak pernah menembus benteng pertahanan hatinya, karena itulah ia tak pernah marah pada  kami, dan kami semua berharap virus-virus kesabaran darinya agar terinfeksi pada kami semua.

PUDARNYA BUDAYA SALAM DI ACEH

Aceh dikenal dengan serambi mekkah, ini semua bermula semenjak masuknya islam melalui Aceh, lebih tepatnya pada samudra pasai di aceh utara, bahkan tidak hanya julukannya  yang begitu istimewa bahkan turun kepada perbuatan masyarakat bermukim setempat.

Jika ditelusuri julukan dari serambi mekkah, keua kata itu menganung makna yang spesial. Serambi dari kamus besar bahasa Indonesia dijeaskan bahwa “serambi” merupakan jalan masuk atau tempat yang mesti dilewati untuk menuju pencapaian, ibarat sebuah rumah jika yang dikatakan serambi ialah pintunya, jalan paling aman dan sesuai untuk masuk kedalam rumah, sedangkan jalan lain juga dapat ditempuh untuk masuk kedalam, seperti jendela, akan tetapi jalan pencapaian dari jendela tidak aman dan sulit ditempuh untuk masuk ke dalam rumah.

Sedangkan kata pasangannya ialah “mekkah” jika ditelusuri dari buku sejarah kebudayaan islam mengandung maksud secara tersirat dengan banyaknya kebaikan di sana, karena letaknya di timur tengah dan di sana juga bermula kehidupan pertama kali dimulai, saat dipertemukannya Adam dan Hawa, tetapi yang terpenting di sanalah nabi terakhir di lahirkan dan menyebarkan petunjuk-petunjuk kehidupan bagi manusia, dan ini semua dapat ditrawang dengan membaca sejarah islam, mekkah merupakan daerah yang lengkap dengan aturan-aturan islam berasal, maka jika digabungkan antara kedua kata tersebut, kita dapat menarik kesimpulan, bahwasanya Aceh merupakan gerbang utama dari asia dan pintu utama dari Negara Indonesia, melalui daerah Aceh masuknya ajaran yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW, manusia pilihan Allah yag menjadi suri tauadan yang baik, bagi segenap umat manusia.

Otomatis dengan sendirinya budaya-budaya orang mekkah yang berada di sana, dengan sendirinya beradaptasi di Aceh dan lama kelamaan mendarah daging di Aceh serta menjadi budaya di daerah serambi mekkah ini, dikarenakan di mekkah memiliki budaya sehari-hari identik dengan islam, maka hal yang sama juga terjadi di Aceh, layaknya pribahasa yang mengatakan “buah kelapa tidah jauh jatuh dari pohonnya” hal yang sama juga terjadi antara Aceh dan Mekkah.

Budaya Mekkah yang diadopsi dari agama, salah satunya seperti member salam, dengan megucapkan assalamualaikum jika berjumpa dengan saudara-saudara seiman dan seagama, dan kalimat salam itu mengandung sari makna saling mendo’akan sesama muslim.

Mekkah sangat kental dengan budaya memberi salam, maka tidak heran jika Aceh juga terkontaminasi dengan budaya salam, seperti halnya penyakit HIV yang mudah menular kepada siapa saja melalui perantara tertantu, dan budaya salam atau saling menyapa dengan mengucapkan assalamualaikum telah mejadi kebiasaan masyarakat Aceh, jika tidak melakukannya maka akan dianggap aneh atau berbeda dalam masyarakat.

Teknologi telah berkembang, zaman samakin berkembang, telah banyak terciptanya teknologi canggih, seperti handphone, leptob, computer, dan lain sebagainya, karena semakin majunya teknologi, maka budaya salam diaplikasi oleh masyarakat untuk memulai percakapan jarak jauh seperti menggunakan handphone, chating melalui online, dan itu semua tidak ada bedanya, yang membedakan hanya tidak melalui pertemuan langsung, terpisah oleh jarak.

Pada sisi lainnya karena majunya teknologi, memudahkan bagi setiap individu uentuk mengetahui berbagai macam informasi dari seluruh dunia, dan dikarenakan yang medominasi pemguasaan perflman dunia, music papan atas, mereka semua berasal dari eropa. Maka dengan mudahnya mereka memproklamasikan budaya-budaya mereka melalui media massa maupun media cetak, dan budaya mereka yang mempengaruhi pemuda-pemuda zaman sekarang agar berkiblat kepada budaya mereka, dan meninggalkan budaya tanah air sendiri, bangsa eropa yang merencanakan semua ini, dengan memasukkan budaya mereka yang  terkesan modern supaya budaya aceh terkesan kuno dan primitif.

Sedikit demi sedikit budaya-budaya barat terus mewabah ke segala penjuru Aceh, hal ini dapat berefek punahnya budaya salam tersebut, dan ditakutkan akan terputus oleh generasi selanjutnya, kini yang masih mengaplikasikan budaya salam, hanya didominasi dari mereka yang berusia dewasa ini, tetapi bagi anak muda zaman sekarang lebih mengikuti trend masa kini, yang berasal dari bagian barat sana, dan ini jika tidak diatasi dikhawatirkan budaya salam tersebut akan punah dimakan zaman, jika tiada lagi generasi yang mau mengaplikasikan budaya salam itu, maka setelah punahnya generasi dewasa ini, budaya salam itu juga ikut terkubur bersama terkuburnya generasi dewasa ini.

Saya pernah mengalami pegalaman, yang membuat kita miris pada generasi muda sekarang, kejadiannya membuat seorang tamu harus diajari bagaimana tabi’at islam atau budaya islam yang baik dan benar saat berkunjung kemanapun yang ingin dikunjungi, saat itu pasantren kami kedatangan seorang tamu yang inggin berjumpa dengan saudaranya di pasantren itu, ia melapor kepada pos keamanan pasantren setempat dan langsung mengutarakan maksud kedatangannya tanpa kalimat pembuka(salam), tanpa basa basi, setelah ia berhenti berbicara kemudian bapak yang menjaga pos keamanan itu menasihatinya dengan santun “besok jika ingin mengunjungi seseorang ke sini, berilah salam untuk memulai pembicaraan, hargai kami, meskipun kami ini tidak lebih hebat dari anda” demikianlah tingkah laku yang terus berkembang pada generasi muda zaman sakarang khususnya di ingkungan Aceh sekarang ini.

Itu semua membuktikan telah memudarnya budaya salam di Aceh, dan jika tidak ada yang bergerak untuk mempertahankannya, maka tidak lama lagi umur budaya salam tersebut akan dikenang hanya dalam buku sejarah Aceh tempo doelo, tidak dapat di rasakan lagi secara langsung.

Dari segi itulah kita harus menumbuhkan rasa cinta akan budaya sendiri, karena dengan rasa cinta itu kita dapat menjaganya, dan itu semua dimulai dari diri kita sendiri untuk melestarikannya, jika bukan kita yang memulai maka siapa lagi yang akan memulai, bagi mereka yang masih kanak-kanak belum paham akan budaya salam kita bimbing atau dikasih tau akan indahnya budaya salam itu, agar mereka mau mengaplikasikannya dalam lingkungan masyarakat umum.